Tuesday, March 5, 2013

Nyantri di Pon-Pes Al Ma'unah




Lahir dengan nama khoirul anwarudin tanggal 6 desember 1994. Namun karib sering memanggilku anwar. Aku berasal dari wilayah selatan indramayu, yang berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten Cirebon,  jawa barat. 
Sejak kecil aku sudah dididik dengan ajaran islam. Dimulai dari orang tuaku sendiri, kemudian dari para asatidz dan sesepuh kampung melalui pengajian pengajian di musholah dan di madrasah.  Keluargaku sendiri kebanyakan telah mengenyam pendidikan pesantren, meskipun kedua orang tuaku hanya berlatar masyarakat biasa.
Baru pada tahun 2007, aku dipondokkan di pondok pesantren Al ma’unah, yang masuk wilayah kabupaten Cirebon. Pesantren tersebut diasuh oleh KH. Bakhruddin Yusuf. Seorang Kyai yang disegani karena ilmu dan kepribadianya yang baik. Beliau juga cukup aktif di organisasi keagamaan yang membuat beliau semakin berpengaruh, baik dakalangan masyarakat biasa maupun dikalangan sesama ulama.
Ujian Pertama
Sebenarnya keinginanku bukan masuk pesantren. Yang saat itu terlintas dipikiranku adalah masuk sekolah favorit, maklum saat di bangku Sekolah dasar aku termasuk siswa yang cukup menonjol. Guru-guruku tentu menyarankan aku untuk melanjutkan ke sekolah terbaik agar kemampuanku bisa terasah maksimal. Namun tidak dengan orang tuaku. Mereka  tetap keukeuh kalau aku harus masuk pesantren dengan alasan yang sebenarnya saat itu aku tidak pahami. Keinginanku masuk sekolah favorit pupus sudah, yang kemudian terlintas adalah aku ingin membahagiakan orang tuaku.
Beruntung, di pesantren Al ma’unah ternyata juga disediakan  sekolah formal. Meskipun kondisinya jauh dari sekolah yang pernah aku impikan. Dimana peralatan penunjang belajar sangat minim. Terlebih dengan kondisi bangunan sekolah yang masih prematur. Saat musim kemarau ruang kelas berdebu karena lantainya masih berupa tanah. bahkan saat musim hujan kegiatan belajar terpaksa dihentikan karena ruang kelas kebanjiran.
 Namun itu tidak menjadi masalah yang berarti karena di pondok aku ternyata menikmatinya.  Baik santri yang seangkatan maupun yang lebih senior, mereka sangat baik dan peduli terhadap santri lainya, termasuk kepadaku. Hal ini menjadi penghibur tersendiri, di tengah kekecewaanku yang masih membekas kepada orang tuaku.
Budaya Ghosob
Masih di minggu-minggu awal di pesantren Al ma’unah. Banyak santri baru yang boyong karena tidak tahan dengan kondisi di pondok pesantren Al ma’unah, yang setiap hari kegiatanya sangat padat, yakni ngaji. Baik  Pagi, siang, sore dan malam. Praktis waktu bermain bahkan untuk keperluan pribadi hanya sedikit sekali  Hal ini mendorongku untuk boyong dan pindah ke sekolah atau pesantren yang lebih bebas. Terlebih aku sering dibuat kesal karena barang-barangku sering di Ghosob. Baju yang baru sebentar di letakkan di atas lemari sudah hilang, sandal jepit tinggal yang kirinya saja, sabun shampoo dan peralatan mandi lainya sudah raib. Meskipun pada akhirnya akan kembali juga. Namun tetap saja bikin aku jengkel. 
Akupun protes ke salah seorang santri senior yang juga  pengurus pondok. Aku bilang “kenapa di tata tertib pondok yang terpampang jelas di setiap kamar disebutkan kalau ghosob itu dilarang, tapi mengapa seakan tidak ada tindakan tegas bagi para pelakunya”.
“kalau masalah ghosob, sangat sulit untuk diatasi. Semoga kamu mengikhlaskan saja barang yang di ghosob orang lain, toh mereka disini kan ibaratnya seperti saudara kamu sendiri” jawabnya.
Aku merasa tidak lagi mempunyai harapan. Akupun semakin sedih ketika teringat pesan ibuku agar aku hati hati merawat setiap barang barangku dengan baik. Kerena memang aku dari keluarga yang pas-pasan, sehingga agak berat apabila harus boros membeli sesuatu. Hal ini kembali menjadikan keinginanku untuk boyong semakin besar.
Namun disisi yang lain, aku teringat pesan mama yai (panggilan santri untuk sang pengasuh, KH. Bakhruddin Yusuf) di sela sela acara pengajian. Mama yai selalu mengatakan “ tidak apa apa dipondok merasa susah, karena itu yang dicari. Tidak mungkin dalam hidup kita akan susah terus, pasti ada bahagianya. Kalau di pondok kalian merasa susah, pasti detelah mondok kalian akan menemukan kebahagiaan” begitu pesan mama yai. Biasanya setelah berpesan demikian, beliau memotivasi kami dengan Qishotun Ni’mah dari para kyai yang telah mendapatkan keberkahan setelah mereka berjuang dari hawa nafsu Ketika mereka masih mondok.
Belakangan Ghosob bukan lagi menjadi masalah serius. Meski begitu, saat aku diangkat menjadi pengurus bidang kegiatan dan pendidikan setahun lalu, aku mengupayakan agar budaya Ghosob enyah dari pondok al ma’unah dan diganti dengan budaya izin-mengizinkan. Meskipun pasa akhirnya hasilnya tetap nihil.
Masih di tahun awal, aku berhasil menamatkan hafalan Juz Amma, yang menjadi program wajib setahun awal di pondok.

Pada tahun 2009, saat itu aku telah memasuki tahun ke tiga di pondok pesantren al maunah. Ketika satu peristiwa mengejutkan terjadi.
Dimulai dengan beberapa santri yang sakit dan di isolasi di dalah satu kamar kosong. Beberapa hari kemudian, santri yang sakit bertambah dan meningkat drastic. Hinggamencapai puluhan santri. Terakhir, saat ada pendataan santri sakit, jumlahnya telah mencapai separuh dari dekitar 150 santri. Hal ini cukup mengejutkan. Akhirnya seluruh santri yang terdata sakit, termasuk aku, digiring ke puskesmas terdekat. Terpaksa pihak sekolah maupun pondok meliburkan seluruh kegiatanya.
Dilingkungan luar pondok, telah beredar  kabar kalau santri Al ma’unah terserang virus flu babi, yang saat itu sedang menjadi perbicangan dikalangan khalayak ramai. Didasarkan informasi yang setengah setengah yang mereka terima. Sehingga mereka melarang anak-anak mereka yang ngaji di pesantren untuk mendekati lingkungan pondok. Pada malam jum’at, yang biasanya ramai dengan warga yang mengikuti mujahadaan juga mendadak sepi, hanya segelintir orang yang berani dating malam itu.
Betapa kagetnya petugas puskesmas menyaksikan begitu banyaknya santri yang sakit. Semua santri yang sakit ditanyai, mereka mengaku sakit. Tapi saat diperiksa banyak yang kondisinya normal normal saja. Meski begitu, santri yang sakitnya lumayan parah, mereka dirujuk ke puskesmas kecamatan untuk rawat inap. Sementara yang lainya diperbolehkan pulang.
Selang beberapa hari,aktifitas di pondok pesantren Al ma’unah kembali normal. Sekolah juga tidak lagi diliburkan. Sementara issue mengenai flu Babi yang sebelumnya cukup menhebohkan, perlahan mereda. Alhamdulillah, issu Virus Flu Babipun terbukti tidak benar, karena yang diderita santri hanya  Flu biasa, bukan dari Virus yang asalnya sesuatu yang najis tersebut.
Teka teka tentang membengkaknya jumlah santri yang sakit juga perlahan menemuai titik temu, meskipun hal ini tidak memberikan pengaruh yang berarti karena issue terlanjur tersebar. Namun ini bisa menjawab pertanyaan berbagai pihak, perihal membengkaknya santri yang sakit.
Ceritanya, banyak santri yang pura pura sakit karena malas untuk ngaji atau sekolah. Seorang sahabatku, Saeman salah satunya. Saat aku Tanya “Man, kenapa enggak sekolah”. “malas ah, banyak yang sakit. Paling gurunya juga enggak bakal berangkat” katanya. Ia mengambil jaket dan selimut kemudian berbaring diatas kasur. Saat ada pendataan ia dan santri yang juga pura pura sakit ikut digiring ke puskesmas.
Ihwal Sarung
Di pondokku adakewajiban mengenakan kopiah dan sarung saat keluar pondok maupun saat pulang. Mungkin hal ini bertujuan untuk menunjukkan atribut keislaman dan kebanggaan menjadi seoarang santri. Namun banyak santri yang masih belum percaya diri mengenakan sarung dan kopiah saat berada di luar lingkungan pondok pedantren.
Satu ketika, aku memperoleh jatah kiriman dari rumah. Sebelumnya aku berencana membeli sebuah buku di sebuah mall si pusat kota Cirebon. Saat itu aku ingin sekali mewujudkanya.
Bersama dua sahabatku, seaman dan suhendi aku pergi ke sebuah took buku di Mall tersebut tidak dengan sarung dan kopiah. Namun ternyata ada yang aneh. Orang orang memandangi aku heran, mungkin karena penampolanku yang juga aneh dan norak. Aku memakai sepatu sport, celana jeans serta kemaja kusut. Ketiganya sengaja aku pinjam dari seorang teman. Ketiganya pula satu sama lain tidak matching.
Pengalaman memalukan ini aku ceritakan kepada seorang teman yang lebih senior dariku. Ia malah menertawaiku dan berkata “ kamu seharusnya jangan minder pakai sarung dan kopiah, seharusnya kamu bangga jadi seorang santri, sebagai orang yang menjunjung tinggi ajaran islam. Buktikan dong kalau kamu memang bangga jadi santri” akupun tersenyum kecut.
Di satu kesempatan lain, aku kembali ke Mall tersebut, untuk satu keperluan. Saat itu aku beranikan diri untuk mengenakan kopiah dan sarung. Banyak orang yang memandangiku aneh, sementara yang lainya cuek cuek saja. Saat aku melewati sebuah gerai produk elektronik, seorang SPG (Sales promotion girl) yang mengenakan kaos ketat serta rok mini 15 cm di atas lutut, tiba tiba nyeletuk. “abis di sunat de’…..” aku tetap berlalu begitu saja.
Khidmah dan Syu’bah
Saat ini aku telah menginjak tahun ke enam di pondok pesantren al ma’unah. Masa yang masih terlalu sedikit untuk belajar. namun aku tetap bertekad untuk terus belajar tanpa dibatasi waktu dan umur. Kini aku berusaha memburu keberkahan Allah Swt melalui khidmatku kepada Mama Mai serta Ibu Nyai. Ketika aku dipercayakan untuk menggarap lahan seluas kurang lebih satu hectare, aku sangat senang. Bersama tiga orang lainya, aku mempunyai kewajiban lain disamping belajar dan mengaji, yakni mengolah lahan untuk ditanami palawoja. Saat itulah aku merasakan lebih dekat dengan Mama Yai dan Ibu Nyai. Percaya atau tidak, hal ini membuat hatiku merasa lebih damai dan tentram. Semoga Allah Swt memberikan keberkahan kepadaku, pengajarku serta pesantrenku. Amin.